Sunday, October 25, 2015

"The only way to get what you want in this world is through hard work"
— Tiana, The Princess and The Frog (2009)

Is it 2010 or 2009? Nevermind

So, I put away my task and started looking for this movie all over the internet and guess what, I found it! Yeay!

It's a super different princess story.

Kalau boleh jujur, film ini adalah satu dari tiga film Disney yang saya suka. Simply because it contains too much, too damn much moral values. Don't blame me, I do like romantic drama which serve you with complicated story-line of a girl who fell in love with two, or three boys, or robotic animation whatsoever but this, gentlemen, this film is a total bomb.

Banyaaaaaaak banget hal yang saya suka dari film ini, dan jadi alasan saya untuk terus nonton film ini, atau dengerin soundtracknya kalau lagi ngedown.

Pertama, sosok Tiana yang bener-bener...keren! Pekerja keras, berpendirian, realisator! Dia berusaha keras, keras banget untuk mewujudkan mimpi dia dan ayahnya supaya bisa punya restoran. Idk peeps, see someone struggle so hard for her dreams makes me wanna cry myself out I mean what am I doing for my whole life

Kedua, ceritanya nggak terduga! Kalau dijabarkan dalam plot, sih, bisa ditebak. Tapi Ron Clements dan John Musker memang nggak pernah kehabisan ide buat bikin celetukan lucu dan plot twist. Dan yang paling mengesankan adalah semuanya nyambung. Dari awal yang ditekankan adalah mereka butuh cinta, dan itulah yang mereka dapatkan pada akhirnya. Semuanya punya peran yang jelas, bahkan Charlotte pun begitu, dan dia bener-bener sayang sama Tiana. I wish I had a friend like Charlotte.

Ketiga, moral value. Mulai dari harus selalu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, jangan berharap pada hal-hal yang gak masuk akal (sorry, Evangeline), mau membantu teman, banyak banget deh. Dan entah kenapa it seems real. Saya pengen banget menerapkan apa yang film itu ajarkan untuk kehidupan sehari-hari. It's really nice to be a nice human being. Money ain't got no soul, money ain't got no heart--and somehow reminds me that whatever I'm gonna be next few years it's just not about money, it's about love.

Keempat, soundtracks! Sempurna. Bagus, bagus banget semua lagunya. Randy Newman, gosh, you bombed me. You bombed me hard.

Sebenarnya yang paling saya suka adalah the vibes, post watching effect yang bisa memberikan semangat untuk saya melakukan apa yang harusnya saya lakukan, bekerja keras! Di manapun saya berada, dalam kondisi apapun, saya harus membantu diri saya sendiri untuk bisa bertahan, and that's what I'm gonna do.

My dream wouldn't be complete without you in it. Sweet Tiana gosh!

Paling seneng, sih, usahanya Naveen yang nggak pernah kerja apa-apa untuk impress Tiana. It's too damn sweet. Nggak giung, simply sweet. Terlebih cara dia...apa ya.....sees, glances at Tiana.

like she's everything

sweet sweet love line.

Personal rating? 10/10, of course.

God take me to New Orleans.
Or Dufan.



This Week's Playlist
Down in New Orleans - Dr. John
Almost There - Anika Noni Rose
Never Knew I Needed - NeYo
(nice sweet song)

Saturday, October 24, 2015

"First you feel like dying, then you feel reborn"
Joano Silva

Ya, dua bulan lagi akan bertemu dengan 2016. Entah mengapa 2015 bisa begitu cepatnya, saya bahkan tidak sempat duduk untuk sekedar mengambil napas.

Bagaimana kabar? Baik, baik sekali. Saya sudah jarang menulis, ya? Menulisnya bukan di sini. Ada satu catatan khusus, kok. Things have been good lately. Sejak beberapa bulan ke belakang saya pindah ke kamar yang lebih sempit, hitung-hitung belajar menjadi anak kost-kostan. Beberapa bulan ke depan harus selalu memberi usaha ekstra di setiap pekerjaan, karena akan selalu dihitung.

Masih sibuk? Alhamdulillah, masih diberi sibuk. Sibuk menabung nilai, sibuk memberikan yang terbaik di jabatan seumur hidup (berhubung jabatan sementara sudah dilepas dengan luar biasa baik), sibuk mendidik adik-adik calon peserta OSS Biologi tingkat Smansa, sibuk mengurusi tim sepak bola plastik kesayangan saya, dan sibuk karena kebiasaan menghilangkan barang saya masih belum sembuh juga.

In shaa Allah November ini akan mengambil banyak kesempatan. Sekaligus memperbaiki apa yang buruk seperti; menunda-nunda, kabur-kaburan, malas. Iya, siap. Saya perbaiki.

Yang menarik, saya menemukan delapan alasan mengapa seseorang ingin menjadi dokter;
  1. I hate to sleep
  2. I like to stay in school forever
  3. Nobody can read my handwriting
  4. My father has extra money
  5. I think I've enjoyed my life enough
  6. I can't live without tension
  7. I want to pay for my sin
  8. I don't want to marry before 40
Sebenarnya ini bercandaan, sih, tapi saya jadi menganalisa. Pertama, saya cuma suka tidur larut dan jam tidur saya memang cenderung sedikit. Kedua, saya memang berniat untuk bersekolah agak lama karena saya takut akan kejamnya dunia kerja (plus, tuntutan sekolah hanya belajar dan nilai, bukan?). Ketiga, ya, tulisan saya hancur, tanya Sumayyah. Keempat, hmmm not really. Kelima, ya! Keenam, YA! Ketujuh, YAA! Kedelapan, hmm 27, sih, actually.

6/8. Jadi, doakan, ya!


Ya sudah, saya pamit dulu. Masih ada 41 to-do list yang belum saya rampungi.
Dan saya malah menonton The Princess and The Frog dan Mulan.

Monday, October 19, 2015

Kami hanya barisan titik timbul,
orang-orang kerap lupa
Kami berbaris di bawah kata
Untuk tidak dibaca

Kami hanya barisan titik timbul
Orang-orang kerap acuh
Karena kami tidak bermakna
tidak terbaca
bila disanding dengan huruf dan kata

Tapi,
tidak apa-apa

Karena kami barisan titik timbul
Untuk orang yang ingin hidup
Dengan mencari celah cahaya
Di kerubungan bintik kelabu

Karena kami adalah barisan titik timbul
yang menuntun semangat ingin tahu
menerobos batas keterbatasan
menuju setara ilmu pengetahuan

Karena kami adalah barisan titik timbul
diksi yang punya makna
bila dibaca dengan hati,
bukan mata

Halah.

Intinya, senang bisa baca puisi yang dibuat cepat-cepat itu. Hasilnya memang nggak se-Pramudya Ananta Tur. Tapi lumayan untuk asah skill.

Besok ulangan matematika peminatan, vektor. Udah agak muak baca-baca semacam itu. Pengen fokus, pengen cepat-cepat tahun depan. Lihat soal-soal, kok, menantang banget. Nggak sabar berkecimpung di segala aktivitasnya, dan meninggalkan riweuh-riweuh SMA.

Kemaren ditinggal (lagi) ke Bandung selama +- 3 minggu (lagi). Terus yang riweuh malah orang-orang. Dari riweuh standar kaya;
"Nyaiy ditinggal"
"lu abis nangis bukan tan gara-gara ke Bandung?" "lah...................mata gue emang gini"
"awas aja tuh orang gak lolos pelatnas 2"
"cie"
"udah cape cape ngurus gtc tapi doi gaikut"
"awas ntar dia sama cewek pelatnas"
"suruh potong rambut geura Tan"
"ntar balik balik lu udah ditinggal Tan ada cewek baru"
"Atau lu yang malah sama cowok baru"
"dasar"

sampe kaya...

"Nyaiy ditinggal mulu, jarang dibelai" ..................(facepalm) (muntah pelangi) (mega facepalm)

Ya Allah gusti

dah ah belajar vektor dolo