Monday, October 19, 2015

Kami hanya barisan titik timbul,
orang-orang kerap lupa
Kami berbaris di bawah kata
Untuk tidak dibaca

Kami hanya barisan titik timbul
Orang-orang kerap acuh
Karena kami tidak bermakna
tidak terbaca
bila disanding dengan huruf dan kata

Tapi,
tidak apa-apa

Karena kami barisan titik timbul
Untuk orang yang ingin hidup
Dengan mencari celah cahaya
Di kerubungan bintik kelabu

Karena kami adalah barisan titik timbul
yang menuntun semangat ingin tahu
menerobos batas keterbatasan
menuju setara ilmu pengetahuan

Karena kami adalah barisan titik timbul
diksi yang punya makna
bila dibaca dengan hati,
bukan mata

Halah.

Intinya, senang bisa baca puisi yang dibuat cepat-cepat itu. Hasilnya memang nggak se-Pramudya Ananta Tur. Tapi lumayan untuk asah skill.

Besok ulangan matematika peminatan, vektor. Udah agak muak baca-baca semacam itu. Pengen fokus, pengen cepat-cepat tahun depan. Lihat soal-soal, kok, menantang banget. Nggak sabar berkecimpung di segala aktivitasnya, dan meninggalkan riweuh-riweuh SMA.

Kemaren ditinggal (lagi) ke Bandung selama +- 3 minggu (lagi). Terus yang riweuh malah orang-orang. Dari riweuh standar kaya;
"Nyaiy ditinggal"
"lu abis nangis bukan tan gara-gara ke Bandung?" "lah...................mata gue emang gini"
"awas aja tuh orang gak lolos pelatnas 2"
"cie"
"udah cape cape ngurus gtc tapi doi gaikut"
"awas ntar dia sama cewek pelatnas"
"suruh potong rambut geura Tan"
"ntar balik balik lu udah ditinggal Tan ada cewek baru"
"Atau lu yang malah sama cowok baru"
"dasar"

sampe kaya...

"Nyaiy ditinggal mulu, jarang dibelai" ..................(facepalm) (muntah pelangi) (mega facepalm)

Ya Allah gusti

dah ah belajar vektor dolo

No comments:

Post a Comment