Friday, November 20, 2015

Psssst;


Ada yang ulang tahun.
Coba lihat


Hihiw

Bukannya belajar TOEFL. Hiks. Mari mengheningkan cipta untuk kesibukan-kesibukan yang tiada ujungnya.

Monday, November 16, 2015

Berkelok;


Kadang kalau kelokannya terlalu tajam, kita bisa jatuh, bukan?
Entah saya harus menguatkan pegangan pada kemudi, memasrahkan diri pada sabuk pengaman, atau turun dari mobil, semuanya tergantung.

Sunday, November 15, 2015

Jakarta, Yogyakarta, Bandung;


Jakarta

Ketika saya katakan saya mau menetap, mengakar di Jakarta, teman-teman saya tertawa. Mereka bilang, Jakarta itu keras. Jakarta kejam. Jakarta penuh dengan polusi. Kamu harus jadi yang terkuat untuk bisa bertahan di Jakarta. Jakarta akan membuat kamu luluh lantah.

Tapi, toh, melihat gedung pencakar langit Jakarta belum pernah membuat saya bosan.

Saya selalu suka Jakarta sore dan malam. Hiruk pikuk manusia menggusur tenang dan temaram dengan jogetan seadanya atau obralan jualannya. Di sisi lain kota ada yang kelelahan dengan tumpukan kertas. Lalu ada yang bermesraan mengagumi masakan. Bukankah kompleksitas yang dihadirkan di setiap sudut membuatmu semakin tergugah?

Saya ingin ramaimu, penuh sesakmu. Saya ingin berada di antara ribuan manusia dengan nasib heterogen, dengan budaya heterogen, namun sama-sama mencari nasi di tengah lautan polusi. Saya ingin menjadi salah satu orang sibuk yang berjalan cepat-cepat dan hidup dengan penuh tensi, di kota ini.

Yogyakarta
Banyak orang bilang Yogyakarta adalah kota yang hidup. Konon banyaknya acara-acara kebudayaan di Yogya setara Jakarta, Bandung, Bali digabung. Belum lagi taman kotanya yang ada di mana-mana. Galeri seni dan museum ada di setiap sudut. Toko bukunya paling lengkap seantero negeri. Tak ada macet. Makan dan tempat nongkrong super murah. Kabarnya juga novel atau kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma mudah didapat di Yogya. 
Pekan lalu kami berkesempatan merasakan Yogya. Dan semua yang dibilang orang itu rupanya benar. Kecuali soal kumpulan cerpen Seno Gumira. 
Dari cerita kawan-kawan kami dengar banyak orang besar di Yogya suka seliweran cuek di tengah atau pinggir kota. Joko Pinurbo katanya suka baca puisi kalau bulan purnama tiba. Pelukis Agus Suwage suka nongkrong santai di tengah kota kalau karya baru terjual. Butet Kertarajasa dan Djaduk Ferianto mudah ditemui di warung punya mereka. 
Orang punya karya adalah satu hal tersendiri. Tapi tak semuanya bisa jadi orang “besar”. Dalam arti, orang-orang besar itu adalah mereka yang hebat dalam berkarya, tapi tetap rendah hati, mudah ditemui dan mudah diajak bicara. Tak mesti terkenal. Hal seperti itu mungkin agak sulit ditemukan di Jakarta. Tapi di Yogya, lain cerita. 
(dikutip dari dibandaneira.tumblr.com) 
Saya pernah kecewa dengan satu malam yang gerah, tapi saya tidak bisa tidak cinta pada Yogyakarta. Sekalipun ketakutan, tengah malam itu saya melihat seniman-seniman bergelar santai dan pedagang-pedagang bergurau ramai di tengah kota. Seolah, kesenjangan tidak pernah ada. Seni dan rendah hati adalah pesona yang menyatukan. Begitu kata Yogya.

Bandung

Terakhir kali saya ke mari adalah SMP, kelas dua. Ketika itu saya menemani ibu saya mengurus berkas-berkas aneh di gedung aneh. Angkotnya aneh. Jalannya aneh. Bandung sangat aneh--pikir saya. Kemudian saya datang kembali, empat tahun rupanya saya ogah-ogahan ke sana lagi. Saya hanya dengar dan lihat lewat akun sosialnya caretaker Bandung, Ridwan Kamil. Tapi tidak pernah tergugah untuk menengok, atau menjadikan destinasi.

Tapi, ketika benar-benar berpikir keras di balik kaca bus, saya harus menekan ego dengan mengakui, Bandung mungkin tidak seburuk yang saya tekankan. Bandung...apalah. Bandung itu bagus, berseni. Bandung tidak angkuh seperti Jakarta, Bandung tidak selembut Yogya, Bandung ada di keduanya. Dan apabila saya tidak mampu (which is not what I planned) saya siap berkecimpung dengan logat Sunda, setiap hari.

Bandung tidak buruk, kok. Mungkin begitu.



"The reason why worry kills more people than work is that more people worry than work."
Rober Frost



Maaf masih peragu, bukan pekerja. 
Ini gagal yang terakhir. Malu betul bila gagal lagi. Dan saya harus sukses.
Bangun.

Jakarta, Yogya, Bandung, biar saya yang pilih.

Thursday, November 12, 2015

Batasan Tuhan;


Hasil kontemplasi di bawah hujan--baik di langit maupun di pipi, bersama seorang kawan yang sama persis nasibnya dengan saya; orang-orang yang tertekan keadaan.

Bukan,
(dengan segala kerendahan hati dan percaya diri kami menyimpulkan)
kami bukan orang-orang yang terpuruk, justru kami adalah mereka-mereka yang diberi kelebihan. Pelindung sel-sel saraf kami terbilang lebih tebal sedikit dibanding orang awam, mungkin di atas rata-rata. Impuls kami lebih cepat meloncat-loncat kegirangan begitu mendapat informasi baru. Dan, itulah yang menjadi masalah.

Karena pergerakan lincah impuls-impuls itulah kami menjadi orang-orang yang gemar berpikir, mengulik, berkontemplasi. Kami menetapkan sendiri apa-apa yang akan terjadi dalam dua, tiga detik yang akan datang. Kami menduga sendiri apa yang akan kami lewati; segala kelokan dan bentuk rintangan. Impuls-impuls nakal itu pula yang menyebabkan kami terlalu banyak menentukan kesuksesan dan kegagalan macam apa yang akan kami lewati, tanpa benar-benar mengetahui apa yang akan kami hadapi.

Kami terlalu takut melangkah, memutuskan.
Sekalipun belum sampai ke kerumunan orang yang saling membunuh, tempurung kaki kami sudah gemetar. Itulah yang membuat kami lari jauh, meringkuk di bawah dedaunan, dan menengok sesekali.
Kemudian kami merutuki diri dengan alasan, kami tidak mencoba karena itu terlalu sulit, mungkin.  

Kami ditekan oleh segala bentuk penilaian. Orang-orang yang sering menepuk tangani--entah maksudnya mengapresiasi atau menghina dengan baik, Orang-orang terlalu banyak berekspektasi tanpa tahu, di balik mercusuar yang menjulang, tersimpan susunan bata yang begitu rapuh.

Kami ditekan oleh segala bentuk kondisi. Mulai dari kakak yang menginspirasi, perjuangan saingan yang lebih, lebih dari kami, orang-orang yang berharap berada di posisi kami, dan ego.

Harusnya, ini mudah. Kami tidak dari nol, kami dari poin sepuluh. Tapi kami terlalu banyak menduga-duga batasan yang Tuhan beri, sehingga kami kembali mengukur batasan diri, kemudian mundur secara spontan.

Dulu saya selalu kagum pada orang-orang pintar. Mereka diberkahi Tuhan dengan segala rupa kehebatan dalam berpikir dan menarik garis konseptual.

Tapi kini rasanya, menjadi bodoh pun bukan masalah.

Menjadi bodoh; menjadi orang-orang penentang batasan Tuhan, menjadi mereka yang berani menantang risiko dengan segala kemungkinannya, menjadi mereka yang tidak peduli akan tergelincir atau tidak sengaja terbunuh dalam medan perang. Mereka tidak peduli--karena mereka tidak berpikir lebih jauh.

Menjadi bodoh; menjadi orang-orang penguji batasan Tuhan, sekalipun hanya bermodal ranting jerami atau jarum pentul, mereka akan berjuang mati-matian. Tidak ada pertimbangan risiko--itu tidak penting, mereka hanya butuh menang.

Tuhan,
terima kasih sel saarafnya.
Berkahilah kami dengan kebodohan dalam bertindak--ketika perlu.
Ketika seperti ini.


Week's playlist
  • Holocene - Bon Iver
  • Hujan di Mimpi - Banda Neira
  • Shut up and Dance With Me - Walk The Moon

Thursday, November 5, 2015

Katanya (2)


"Maaf ya ga bisa romantis
Tidak juga puitis
Padahal aku hobi menangis


Untuk kamu,
Kamu tau betul apa yang kamu mau
Apa yang kamu sebut dalam sujudmu
Apa yang menjadi cita, harapan, yang tertulis di dinding kamarmu


Sulit meyakinkanmu
Karena aku tak mampu
Karena hanya kamu
Katamu, motivasi bukan dari orang di sekitarmu


Tan,

Ada yang pernah bilang
"Yakin mau disana?"
Hingga saya berpikir ulang terus dan memantapkan disana

Ada yang pernah bilang
"Lewat jalur manapun kan ya?"
Hingga saya tak terpaku pada suatu hal yang memang sudah terjadi

Ada yang pernah bilang
"Lu pasti bisa kok"
Melebihi keyakinan atas diri saya sendiri.

Tan,

Saya tahu Allah kasih kemampuan lebih untuk kamu
Minus rasa optimis tapinya.

Saya ga tau
Memang betul gatau gimana pun keadaannya
Coba jangan sesali,
Dan perbaiki yu
Saya pernah baca
"Kenapa meragukan impian manusia, padahal sekalipun tidak pernah?"

Kita bebas bermimpi. Punya impian. Bebas menyampaikan lewat doa yang tak terkira kirimkanlah.
Tan,
Pasti bisa kok.
Tan,
Semoga dikuatkan lagi pundaknya. Beban memang tak ringan. Semoga dimantapkan. Semoga semakin rajin belajarnya. Semoga doanya diijabah dan diaamiinkan setiap penghuni langit dan bumi.

Semoga tidak sakit tenggorokan
Cepat sembuh."

Katanya (1)


"Yaa, semua itu pilihan sih.

Yang penting tau apa konsekuensi dari pilihan kita.

Kalau pertimbangannya karena merasa tidak mampu, nilai tidak cukup--ah, alasan cemen.

Itu cuma kemalasan aja.

Gak bisa kamu survive di kehidupan nyata pakai mental gitu, habis dilibas.

Coba kalau gak kamu perhatikan aja temen-temenmu.

Pasti yang gak seberapa pinter tapi kemauannya keras bisa masuk.

Pola pikirmu kayak gini, 'eh saya laper, tapi duit saya gak cukup buat beli makan, ya udah deh kalo gitu saya mandi aja, mandi kan gak pake duit' kan bego itu namanya.

Gak nyambung.

Pesenku gini; kamu pola pikirnya terbalik. Tentukan dulu mau jadi apa, baru pilih sekolahnya mau apa. Tentukan tujuanmu nanti apa, baru cari tau caranya.

Dan yang penting, pikir baik-baik. Jangan memilih sesuatu karena kamu pikir kamu mampunya cuma itu. Itu namanya gak menchallenge kemampuan sendiri. Hidup menyesal karena gak pernah berusaha itu lebih rendah daripada gagal setelah mencoba.

Gak berani mencoba karena takut gagal itu serendah-rendahnya orang."