Sunday, November 15, 2015

Jakarta, Yogyakarta, Bandung;


Jakarta

Ketika saya katakan saya mau menetap, mengakar di Jakarta, teman-teman saya tertawa. Mereka bilang, Jakarta itu keras. Jakarta kejam. Jakarta penuh dengan polusi. Kamu harus jadi yang terkuat untuk bisa bertahan di Jakarta. Jakarta akan membuat kamu luluh lantah.

Tapi, toh, melihat gedung pencakar langit Jakarta belum pernah membuat saya bosan.

Saya selalu suka Jakarta sore dan malam. Hiruk pikuk manusia menggusur tenang dan temaram dengan jogetan seadanya atau obralan jualannya. Di sisi lain kota ada yang kelelahan dengan tumpukan kertas. Lalu ada yang bermesraan mengagumi masakan. Bukankah kompleksitas yang dihadirkan di setiap sudut membuatmu semakin tergugah?

Saya ingin ramaimu, penuh sesakmu. Saya ingin berada di antara ribuan manusia dengan nasib heterogen, dengan budaya heterogen, namun sama-sama mencari nasi di tengah lautan polusi. Saya ingin menjadi salah satu orang sibuk yang berjalan cepat-cepat dan hidup dengan penuh tensi, di kota ini.

Yogyakarta
Banyak orang bilang Yogyakarta adalah kota yang hidup. Konon banyaknya acara-acara kebudayaan di Yogya setara Jakarta, Bandung, Bali digabung. Belum lagi taman kotanya yang ada di mana-mana. Galeri seni dan museum ada di setiap sudut. Toko bukunya paling lengkap seantero negeri. Tak ada macet. Makan dan tempat nongkrong super murah. Kabarnya juga novel atau kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma mudah didapat di Yogya. 
Pekan lalu kami berkesempatan merasakan Yogya. Dan semua yang dibilang orang itu rupanya benar. Kecuali soal kumpulan cerpen Seno Gumira. 
Dari cerita kawan-kawan kami dengar banyak orang besar di Yogya suka seliweran cuek di tengah atau pinggir kota. Joko Pinurbo katanya suka baca puisi kalau bulan purnama tiba. Pelukis Agus Suwage suka nongkrong santai di tengah kota kalau karya baru terjual. Butet Kertarajasa dan Djaduk Ferianto mudah ditemui di warung punya mereka. 
Orang punya karya adalah satu hal tersendiri. Tapi tak semuanya bisa jadi orang “besar”. Dalam arti, orang-orang besar itu adalah mereka yang hebat dalam berkarya, tapi tetap rendah hati, mudah ditemui dan mudah diajak bicara. Tak mesti terkenal. Hal seperti itu mungkin agak sulit ditemukan di Jakarta. Tapi di Yogya, lain cerita. 
(dikutip dari dibandaneira.tumblr.com) 
Saya pernah kecewa dengan satu malam yang gerah, tapi saya tidak bisa tidak cinta pada Yogyakarta. Sekalipun ketakutan, tengah malam itu saya melihat seniman-seniman bergelar santai dan pedagang-pedagang bergurau ramai di tengah kota. Seolah, kesenjangan tidak pernah ada. Seni dan rendah hati adalah pesona yang menyatukan. Begitu kata Yogya.

Bandung

Terakhir kali saya ke mari adalah SMP, kelas dua. Ketika itu saya menemani ibu saya mengurus berkas-berkas aneh di gedung aneh. Angkotnya aneh. Jalannya aneh. Bandung sangat aneh--pikir saya. Kemudian saya datang kembali, empat tahun rupanya saya ogah-ogahan ke sana lagi. Saya hanya dengar dan lihat lewat akun sosialnya caretaker Bandung, Ridwan Kamil. Tapi tidak pernah tergugah untuk menengok, atau menjadikan destinasi.

Tapi, ketika benar-benar berpikir keras di balik kaca bus, saya harus menekan ego dengan mengakui, Bandung mungkin tidak seburuk yang saya tekankan. Bandung...apalah. Bandung itu bagus, berseni. Bandung tidak angkuh seperti Jakarta, Bandung tidak selembut Yogya, Bandung ada di keduanya. Dan apabila saya tidak mampu (which is not what I planned) saya siap berkecimpung dengan logat Sunda, setiap hari.

Bandung tidak buruk, kok. Mungkin begitu.



"The reason why worry kills more people than work is that more people worry than work."
Rober Frost



Maaf masih peragu, bukan pekerja. 
Ini gagal yang terakhir. Malu betul bila gagal lagi. Dan saya harus sukses.
Bangun.

Jakarta, Yogya, Bandung, biar saya yang pilih.

No comments:

Post a Comment