Wednesday, July 27, 2016

Halo!

Habis melihat perkembangan blog selama ini dan kecewa banget hehe.

Jarang banget nulis. Maafin, ya?

Sebenarnya lagi krisis pede banget.

Nulis sih nulis cuma di word saja cukup karena sadar sih masih amatiran.

Kalo nulis yang menyangkut privacy juga kayanya gimana gitu ya ga sih

jadi mau pamit

mungkin bakal jadi blog mati nih :( sad

tapi sayang diapus hua :(

kalo ada blog baru I'll let you knoooww dadah semua ^_^

Tuesday, July 12, 2016

"Is it always too much to ask for?"
00:39

Dan seketika matamu menjadi jauh lebih semu,
Air-air menghenti
Kalau bisa aku tolakkan banyak tanya-tanya
Aku ingin tahu mengapa kamu
Mengerlip benci

[Writer's block hampir satu semester, jangan jijik kalau banyak bakal nulis menye-menye geli gitu, mau keluar dari zonanya]

Thursday, June 30, 2016

Gabisa dijelasin lagi, alhamdulillah FKUI SMAN 1 Bogor jadi lima orang.

Haduh, siap-siap jadi yang paling bodoh :(

Thursday, June 16, 2016

I think I'll make a tumblr acc again

Tuesday, May 10, 2016

Jadi..


Setelah sempat mimpi di Desain Grafis,
Setelah belok ke Psikologi.
Setelah sempat ingin kuat di FTMD.
Setelah dibuat penasaran Biomedik.

Setelah sempat pengen Akuntansi.
Setelah disuruh Akpol.
Setelah kepikiran Kriminologi.
Setelah sempat nyesel gak masuk IPS.

Setelah banyak-banyak ikhlas demi ngikutin orang tua.
Setelah banyak-banyak ikhlas kalah di sana dan di sini.
Setelah banyak berdoa untuk di kelas internasionalnya.
Setelah harus sering nutupin sesal karena gak ke Kedokteran Gigi..

Akhirnya kemarin, dikasih jawaban cocoknya dimana.


Ya Allah,
gatau mau ngomong apa.

Untuk pertama kalinya nggak tidur dengan kepikiran, "apa masuk [isi sendiri, yang banyak] aja ya?"



doakan bisa bertahan di makara hijau.
doakan banyak yang nyusul
doakan.

Monday, May 2, 2016

Pengen Tidur



So,

Dua hari lalu tidur jam 3, itu juga kaya ga tidur. Padahal paginya olahraga rada mantep. Kemarin juga tidur jam setengah 4, padahal udah di kasur dari jam 8. Akhirnya ngablu pas TO. Gak tidur siang. Ekspektasinya malem ini bakal ngaco terus tidur jam 7. Nyatanya sampai sekarang masih belum berhasil tidur padahal udah dari jam 19:40 di kasur.

Kamar gelap, check.

Baju enak, check.

Kamar dingin, check.

Gatau deh.. capek.

Masalahnya paginya jadi bodoh dan grogi. Ampas.

Jadi moody.

Gak produktif juga karena ngaco.

The hell am I supposed to do.



Anyway ini sudah terjadi cukup lama, on off gitu.

Pengen Pulang





And here comes those nights I've spent re-back-spacing my writings due to pretty huge concern.

Yes, officially 18. Masih nggak nyangka jauh lebih deket ke 20 tahun daripada ke 15. Padahal masih inget banget rasanya jadi anak 15 tahun yang serba sok tahu. Padahal masih nggak kebayang gimana rasanya jadi anak 20 tahunan yang udah mulai cari pejantan. Gila, gila. Kebayang gak sih? Sekitar tujuh tahun lagi bakal kebanjiran gosip si ini nikah sama si itu, dan sebagainya.

Senengnya, gak kepikiran bakal diucapin beberapa orang. Ngerti pisan SBMPTN ini rada bikin gila. Serius, makasih sudah ingat!

Ada satu ucapan yang bikin nangis seharian. Gak tahu, abis baca ucapan itu langsung kangen rumah. Padahal selama ini juga di rumah, nggak kemana-mana. Tapi tiba-tiba kangen rumah, dan masih nggak tahu rumah apa yang dimaksud. Akhirnya jadi kontraproduktif, terus mikir rada lama.

Mungkin kangen ngobrol kali ya. Maksudnya, ya, selama ini juga masih ngobrol sama Mama Papa. Tapi pengen ngobrol sama...manusia sebaya. Padahal kalau lagi ngobrol pengennya sendirian. Gatau deh.

Jangan bikin pengen kabur ke sana, deh.

Berhari-hari berusaha fokus malah kedistraksi sama buku itu. Pengen banget kesana. Ampun. Pengen ngerasain liberalismenya. Pengen main di ice skating. Pengen liat prostitusi legal. Pengen ngerasain naik sepeda. Pengen main di kanal. Pengen ke tempat Anne Frank. Pengen kuliah di sana aja. Pengen di Leidennya sih, tapi kalau mau apply harus nunggu tahun depan. Hufty yakali dah.



Yah.

Jadi mungkin beberapa hari ini masih harus menikmati kesendirian.

Kalo sendiri di Amsterdam sih gapapa.



Dan masih jadi orang yang prinsip kepalanya "tidur jam 7 atau gak sama sekali."




HUHUHUU

Saturday, April 23, 2016

sebentar lagi ulang tahun

dan tes tes lainnya

fakuy

"Tang, gue kira lu yang bikin akun Tatank Galaw"
konfirmasi : nggak, plis.

Friday, April 15, 2016

goddamn thoughts


Gue ngga baper. As stated this is a very strange thought, in a very strange hour.

But I just can't remember the last time people like me just because I suit their types.

Like, it never happened tho lel.

ya, I know

who the f including delayed puberty face, liberalism, sleep deprivation and a veil to their criteria.

eheh

good luck finding that bizarre guy



(crying a lot)

Thursday, April 14, 2016

SMAN 1 BOGOR DIKASIH KJ????!!!!


No, seriously, peeps stop it.

Gue gamau bikin artikel panjang dengan kosa kata baku, susah ngertinya. Gini aja, intinya, gue anak smansa. Gue gadikasih kj atau soal bocoran, whatevs. Guru kita gapernah ngasih kj. Guru kita gapernah ngasih soal UN. We're not those kind of folks. Jadi, stop.

Mungkin yang dimaksud kj itu soal PBT. Itu mah bukan anak smansa juga dapet. Kesebar kali. Helaw.

Plot twist : kalo lu anak smansa dan pake pbt, lu dihujat abis-abisan. TERETETET SURPRISE

(not really abis-abisan, sebenernya banyak yang kaya yaudahlah suka suka dia. Intinya, berlatih dari soal pbt itu keputusan individu yang dihargai. But most of us dont do that.)

Moral of the story : we don't know, yet we're still judging.


Please link my post if you think you need a shield to protect you from hujatans.

Monday, April 11, 2016

Ini Medan, Bung!


Kasus Mbak Sonya sepertinya tidak harus saya jabarkan panjang lebar, kan, ya?

Yang jelas waktu saya pertama kali lihat videonya, saya merasa malu sekali. Terlebih Mbak Sonya ini satu marga dengan saya, sekalipun beda sub-marga. Kayanya saya gak punya keberanian sebegitunya buat berkoar-koar soal jabatan Bapak (yang sebenarnya bukan Bapak...oh well) terlebih ketika saya ada di posisi tersangka.

Tapi setelah saya dengar cerita ibu saya, yah, saya baru tahu, kalau Mbak Sonya nggak salah.

Simpelnya, saudara laki-laki dari Bapak saya semuanya saya panggil Bapak. Kalau yang tertua, saya panggil Pak Tua. Kalau yang tengah, saya panggil Pak Tengah. Kalau yang muda, saya panggil Pak Uda. Mereka semua ini adalah Bapak saya dan saya ini anak mereka.

Nah, kalau saya telisik dari namanya, sepertinya Pak Arman Depari ini adalah adik laki-laki termuda dari alm. ayah Sonya, atau mungkin saudara jauh namun masih berstatus sebagai Pak Uda, begitulah. Karena itu sebenarnya, ya, ngga salah kalau si Sonya bilang dia adalah anaknya Pak Arman Depari. Dan Pak Arman juga nggak salah kalau bilang dia cuma punya tiga anak laki-laki....ya karena memang iya.

Kenapa Pak Arman tidak mengaku Sonya sebagai anaknya? Yha..mungkin Pak Arman terlalu lama berdomisili di luar Batak, jadi sedikit hilang pemahaman soal adat istiadatnya (err, saya pun baru paham beberapa hari ini setelah membuat peta istilah bersama Bapak) (Don't judge me) (Really guys) (I'm trapped in Java for years). Lagipula, pemberitaan di media kadang bikin serangan jantung, jadi Pak Arman tidak sempat klarifikasi sana-sini.

Yang salah, ya, dia melawan polisi. Itu aja sih.

Ya, gitu deh, Batak.

Kewl.

Saturday, April 9, 2016

I KNEW YOU WERE TROUBLE WHEN YOU WALKED IN

BUT WHY THE HELL I KEEP PLAYIN'

SO GOODBYEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

you know you are at the super lowest point in your life when suddenly all Taylor Swift's songs are relatable like the hell I'm listening to but whatever

Friday, April 8, 2016

Hendak dijamu makan apa, Tuan, malam ini?

Kemarin malam kau suap habis kegundahan
Siang tadi kau sesap habis kengiluan
Ditutup dengan pertanyaan

Sebegitu menderita, kah, Tuan, di balik jeruji
hati Tuan sendiri?

Tuesday, April 5, 2016

I need sleeping pills, really.

or a hug?

Wednesday, March 2, 2016

Dear PTN,


I don't wanna run away
but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then
why does my heart tell me that I am?


JDAAAAAR

Tuesday, March 1, 2016

Hari ini grup angkatan heboh sekali.

Diingat sebagai orang jahat itu...pasti sedih, ya?

Nggak tahu harus netral atau memihak ke yang benar--karena pada akhirnya mereka berdua juga melakukan dosa, walaupun beda bentuk. Hukuman sosial, sih, they deserved that. Terlebih dengan menggeser orang-orang yang sepenuhnya berhak. Saya juga ikut dosa, sih, dengan ketawa-ketiwi jadi orang yang diam-diam menyimak. Haduh, mau UN malah bikin dosa.

Intinya, sih, kalau nggak diputus mata rantainya, konflik kayak gini akan selalu mengakar. Tapi orang-orang juga terlalu takut buat berkoar, lempar batu sembunyi tangan. Ibarat pertempuran, mungkin saja mereka saling mendorong seolah berani, tapi ketika dihampiri musuh, langsung lari terbirit-birit. Orang-orang mengaku ingin perubahan, tapi tidak ada gerakan. Kan gila namanya.

Tapi,

hidup memang nggak pernah adil buat semua orang, and that's what makes it fair.

Sunday, February 28, 2016

Years of Depression


We do not know,
yet we are still judging.

Saturday, February 27, 2016

tadi ngecek jaringan bolt
waktu "allow to know your place"
tiba tiba
locationnya
"UGM"

EAEAEAEAEAEA


APAKAH INI PERTANDAAAAAAAAAAA


WKWKW


HAHAHA

jadi seneng

Wednesday, February 10, 2016

Percakapan #1


"enak, ya, orang yang banyak didoain. Mungkin aja doa dia sendiri ketahan dosa, tapi karena yang ngedoain ada banyak, doa orang yang dikabulin."
".....makanya baik-baik sama orang, biar didoain"

mohon doanya, ya.
anaknya semalam nangis sampai sesenggukan,
matanya hampir keluar

Hehe, hiperbola.

Tapi serius, kemarin malam nangis betulan.
Niatnya mau tidur cepet, biar nggak diajak ngobrol sama orang rumah,
eh, malah dateng, si itu.

Terus, nangis satu setengah jam
kaya bayi

bangun-bangun kaya ondel-ondel
bengkak sana sini,
terus nyanyi Indonesia Raya

Indonesia Raya, merdeka-merdeka

Mohon doanya, ya
semoga senantiasa menjadi jiwa yang merdeka.
Merdeka bermimpi,
dan merdeka mewujudkannya.

Tuesday, February 9, 2016

Curhat untuk Sahabat

Dee


Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

"Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini." katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan malam ini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh cintamu ke-1, empat tahun yang lalu. "Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?" tanyaku, berusaha santai.

"Malam ini aku lahir baru."

"Kamu... bertobat?"

"Bisa jadi itu istilahnya!" tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, "Aku... selesai."

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

"Selesai! Semua sudah selesai! Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!" Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

"Kenapa?" tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubilang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, di mana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian di situ. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

"Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin." Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. "Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong..."

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

"Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku... dan segelas air putih."

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

"Tapi... aku janji... tangisan ini buat yang terakhir kali..." katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau jam berapapun... langsung datang..."  Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aki mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayangnya adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Ia lalu minta dibawakan segelas air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu, "Keinginan itu... tidak ketinggian, kan?"

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

"Jadi sekarang kamu mau bagaimana?" Demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

"Aku akan diam," jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

"Diam?"

"Ya. Diam! Diam di tempat. Tidak ada lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin di luar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit..."

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, "Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!"

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

"Kamu sakit?" Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

"Ya."

"Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?"

"Ya."

Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

Tuesday, February 2, 2016

Until It's Gone

Lang Leav

"Some people don't know what they have until it's gone."

"But what about the ones who do know? The ones who never took a damn thing for granted? Who tried their hardest to hold on, yet could only look on helplessly while they lost the thing they loved the most.

Isn't it so much worse for them?"
Kita tidak bisa tampil hanya dengan satu wujud untuk menjadi pengubah.

Dengan pintar, kita bisa menyiasati apa yang sulit menjadi mudah. Atau dengan magis-magis neurosains, mengubah yang mudah menjadi bukan persoalan. Pintar bisa mengubah alur-alur sesuai logika, kemudian menciptakan banyak jalan menuju apa yang dikehendaki.

Dengan baik, kita bisa meleburkan apa-apa yang keras. Memadamkan hal-hal yang buruk. Menyebarkan semangat baru, atau sekadar menyemikan senyum-senyum. Baik bisa menumbuhkan renggasan harapan yang pupus, kemudian menciptakan dongeng, roman picisan.

Namun jika hanya pintar yang diteguh, bisa muncul benih-benih buruk dalam hati.
Jika hanya baik yang digenggam, bisa dimanfaatkan bodohnya untuk hal-hal tak tentu.

Karena itu, dalam setiap langkah, kita butuh dua. Yang satu bersemayam di kepala, yang satu lagi di dada. Yang satu akan menyusun rencana, yang lain akan menggiring agar tidak melenceng ke keburukan. Yang lain akan meyakinkan bahwa banyak hal baik yang bisa terjadi di bumi, yang di atas akan mengatur bagaimana mewujudkannya.

Wednesday, January 27, 2016

Belajar


Di ikhlasin, yuk?

Nggak akan deh semuanya berjalan sesuai yang diinginkan. Harusnya udah tahu, dan harusnya udah paham. Cukup lah yang kemarin-kemarin.

Harusnya tau batas kapabilitasnya cuma sampai, sekian.

Harusnya sadar...

Kalau sudah berikhtiar semampunya, yaudah dicukupkan campur tangannya. Cukup sampai itu.

Harusnya nggak terlalu mendongak jauh jauh.



Jadi, ikhlasin yuk?

Pasti, bertebaran apa apa yang lebih baik.

Pasti.

Saturday, January 9, 2016

"Kamu suka merenung, ya?"


Waktu ditanya itu, saya diam cukup lama. Suka, kah?

Pasti orang-orang tercuci otaknya sama hasil tes tersohor yang secara eksplisit menyatakan bahwa semua orang cocok masuk Teknik Industri. Entah itu disponsori anak TI atau memang kita semua punya potensi yang sama--saya juga nggak yakin dasarnya apa. Tapi karena itu, saya jadi meragukan hasilnya secara keseluruhan.

Tertera di sana indikator-indikator yang saya nggak ngerti logikanya--yang jelas saya dapat beberapa poin Baik. Jengkelnya, setelah sekian kali tes serupa, kebutuhan sosial dan interpersonal saya selalu jadi sorotan. Cukup, nggak pernah Baik.

Hm, kembali lagi.

Suka. Saya suka merenung. Bukan karena saya anti sosial, sama sekali tidak. Tapi, merenung itu...berdialog dengan diri sendiri. Merenung itu, masuk ke dimensi ciptaan yang sulit dimata-matai. Ketika semua orang sibuk dengan perutnya, kamu tidak perlu repot-repot mengganggu makan malam mereka. Karena kamu akan selalu punya teman diskusi--dirimu sendiri.





"Suka, Mas. Tapi ya...ngobrol sama orang lain juga suka, sih."

"Hmm, cocok, kok hasilnya. Ini kamu banget."

Loh?

Saturday, January 2, 2016

Finally;


After such a long, long research
The stress,
determination,
choices,
all the risks,
shouts,
rejections

finally, it has come to a solid choice.

Meet me,
your future oral surgeon.

Bismillah, dentistry.