Wednesday, January 27, 2016

Belajar


Di ikhlasin, yuk?

Nggak akan deh semuanya berjalan sesuai yang diinginkan. Harusnya udah tahu, dan harusnya udah paham. Cukup lah yang kemarin-kemarin.

Harusnya tau batas kapabilitasnya cuma sampai, sekian.

Harusnya sadar...

Kalau sudah berikhtiar semampunya, yaudah dicukupkan campur tangannya. Cukup sampai itu.

Harusnya nggak terlalu mendongak jauh jauh.



Jadi, ikhlasin yuk?

Pasti, bertebaran apa apa yang lebih baik.

Pasti.

Saturday, January 9, 2016

"Kamu suka merenung, ya?"


Waktu ditanya itu, saya diam cukup lama. Suka, kah?

Pasti orang-orang tercuci otaknya sama hasil tes tersohor yang secara eksplisit menyatakan bahwa semua orang cocok masuk Teknik Industri. Entah itu disponsori anak TI atau memang kita semua punya potensi yang sama--saya juga nggak yakin dasarnya apa. Tapi karena itu, saya jadi meragukan hasilnya secara keseluruhan.

Tertera di sana indikator-indikator yang saya nggak ngerti logikanya--yang jelas saya dapat beberapa poin Baik. Jengkelnya, setelah sekian kali tes serupa, kebutuhan sosial dan interpersonal saya selalu jadi sorotan. Cukup, nggak pernah Baik.

Hm, kembali lagi.

Suka. Saya suka merenung. Bukan karena saya anti sosial, sama sekali tidak. Tapi, merenung itu...berdialog dengan diri sendiri. Merenung itu, masuk ke dimensi ciptaan yang sulit dimata-matai. Ketika semua orang sibuk dengan perutnya, kamu tidak perlu repot-repot mengganggu makan malam mereka. Karena kamu akan selalu punya teman diskusi--dirimu sendiri.





"Suka, Mas. Tapi ya...ngobrol sama orang lain juga suka, sih."

"Hmm, cocok, kok hasilnya. Ini kamu banget."

Loh?

Saturday, January 2, 2016

Finally;


After such a long, long research
The stress,
determination,
choices,
all the risks,
shouts,
rejections

finally, it has come to a solid choice.

Meet me,
your future oral surgeon.

Bismillah, dentistry.