Sunday, February 28, 2016

Years of Depression


We do not know,
yet we are still judging.

Saturday, February 27, 2016

tadi ngecek jaringan bolt
waktu "allow to know your place"
tiba tiba
locationnya
"UGM"

EAEAEAEAEAEA


APAKAH INI PERTANDAAAAAAAAAAA


WKWKW


HAHAHA

jadi seneng

Wednesday, February 10, 2016

Percakapan #1


"enak, ya, orang yang banyak didoain. Mungkin aja doa dia sendiri ketahan dosa, tapi karena yang ngedoain ada banyak, doa orang yang dikabulin."
".....makanya baik-baik sama orang, biar didoain"

mohon doanya, ya.
anaknya semalam nangis sampai sesenggukan,
matanya hampir keluar

Hehe, hiperbola.

Tapi serius, kemarin malam nangis betulan.
Niatnya mau tidur cepet, biar nggak diajak ngobrol sama orang rumah,
eh, malah dateng, si itu.

Terus, nangis satu setengah jam
kaya bayi

bangun-bangun kaya ondel-ondel
bengkak sana sini,
terus nyanyi Indonesia Raya

Indonesia Raya, merdeka-merdeka

Mohon doanya, ya
semoga senantiasa menjadi jiwa yang merdeka.
Merdeka bermimpi,
dan merdeka mewujudkannya.

Tuesday, February 9, 2016

Curhat untuk Sahabat

Dee


Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

"Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini." katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan malam ini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh cintamu ke-1, empat tahun yang lalu. "Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?" tanyaku, berusaha santai.

"Malam ini aku lahir baru."

"Kamu... bertobat?"

"Bisa jadi itu istilahnya!" tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, "Aku... selesai."

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

"Selesai! Semua sudah selesai! Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!" Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

"Kenapa?" tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubilang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, di mana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian di situ. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

"Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin." Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. "Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong..."

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

"Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku... dan segelas air putih."

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

"Tapi... aku janji... tangisan ini buat yang terakhir kali..." katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau jam berapapun... langsung datang..."  Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aki mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayangnya adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Ia lalu minta dibawakan segelas air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu, "Keinginan itu... tidak ketinggian, kan?"

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

"Jadi sekarang kamu mau bagaimana?" Demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasaanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

"Aku akan diam," jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

"Diam?"

"Ya. Diam! Diam di tempat. Tidak ada lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin di luar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit..."

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, "Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!"

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

"Kamu sakit?" Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

"Ya."

"Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?"

"Ya."

Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

Tuesday, February 2, 2016

Until It's Gone

Lang Leav

"Some people don't know what they have until it's gone."

"But what about the ones who do know? The ones who never took a damn thing for granted? Who tried their hardest to hold on, yet could only look on helplessly while they lost the thing they loved the most.

Isn't it so much worse for them?"
Kita tidak bisa tampil hanya dengan satu wujud untuk menjadi pengubah.

Dengan pintar, kita bisa menyiasati apa yang sulit menjadi mudah. Atau dengan magis-magis neurosains, mengubah yang mudah menjadi bukan persoalan. Pintar bisa mengubah alur-alur sesuai logika, kemudian menciptakan banyak jalan menuju apa yang dikehendaki.

Dengan baik, kita bisa meleburkan apa-apa yang keras. Memadamkan hal-hal yang buruk. Menyebarkan semangat baru, atau sekadar menyemikan senyum-senyum. Baik bisa menumbuhkan renggasan harapan yang pupus, kemudian menciptakan dongeng, roman picisan.

Namun jika hanya pintar yang diteguh, bisa muncul benih-benih buruk dalam hati.
Jika hanya baik yang digenggam, bisa dimanfaatkan bodohnya untuk hal-hal tak tentu.

Karena itu, dalam setiap langkah, kita butuh dua. Yang satu bersemayam di kepala, yang satu lagi di dada. Yang satu akan menyusun rencana, yang lain akan menggiring agar tidak melenceng ke keburukan. Yang lain akan meyakinkan bahwa banyak hal baik yang bisa terjadi di bumi, yang di atas akan mengatur bagaimana mewujudkannya.