Monday, April 11, 2016

Ini Medan, Bung!


Kasus Mbak Sonya sepertinya tidak harus saya jabarkan panjang lebar, kan, ya?

Yang jelas waktu saya pertama kali lihat videonya, saya merasa malu sekali. Terlebih Mbak Sonya ini satu marga dengan saya, sekalipun beda sub-marga. Kayanya saya gak punya keberanian sebegitunya buat berkoar-koar soal jabatan Bapak (yang sebenarnya bukan Bapak...oh well) terlebih ketika saya ada di posisi tersangka.

Tapi setelah saya dengar cerita ibu saya, yah, saya baru tahu, kalau Mbak Sonya nggak salah.

Simpelnya, saudara laki-laki dari Bapak saya semuanya saya panggil Bapak. Kalau yang tertua, saya panggil Pak Tua. Kalau yang tengah, saya panggil Pak Tengah. Kalau yang muda, saya panggil Pak Uda. Mereka semua ini adalah Bapak saya dan saya ini anak mereka.

Nah, kalau saya telisik dari namanya, sepertinya Pak Arman Depari ini adalah adik laki-laki termuda dari alm. ayah Sonya, atau mungkin saudara jauh namun masih berstatus sebagai Pak Uda, begitulah. Karena itu sebenarnya, ya, ngga salah kalau si Sonya bilang dia adalah anaknya Pak Arman Depari. Dan Pak Arman juga nggak salah kalau bilang dia cuma punya tiga anak laki-laki....ya karena memang iya.

Kenapa Pak Arman tidak mengaku Sonya sebagai anaknya? Yha..mungkin Pak Arman terlalu lama berdomisili di luar Batak, jadi sedikit hilang pemahaman soal adat istiadatnya (err, saya pun baru paham beberapa hari ini setelah membuat peta istilah bersama Bapak) (Don't judge me) (Really guys) (I'm trapped in Java for years). Lagipula, pemberitaan di media kadang bikin serangan jantung, jadi Pak Arman tidak sempat klarifikasi sana-sini.

Yang salah, ya, dia melawan polisi. Itu aja sih.

Ya, gitu deh, Batak.

Kewl.

No comments:

Post a Comment